"Teknologi Gamifikasi Kahoot! Bangkitkan Semangat Kompetisi Siswa SDN 35" (Jihan Alfi)
PAGARALAM – Revolusi pembelajaran berbasis game (gamifikasi) resmi dimulai di SD Negeri 35 Pagaralam melalui implementasi platform Kahoot! yang berhasil menciptakan gelombang semangat kompetisi positif di kalangan siswa. Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara tim KKN UIN Raden Fatah Palembang dengan para pendidik lokal, yang berhasil mengubah evaluasi pembelajaran menjadi ajang pertaruhan prestasi akademik yang dinanti-nantikan.
Bapak Amir Hamzah, ketua tim pengabdian masyarakat,
mengungkapkan filosofi di balik pendekatan gamifikasi ini. "Kami sengaja
memanfaatkan Kahoot! karena platform ini mampu mengubah mekanisme kuis
tradisional menjadi kompetisi seru dengan sistem poin, timer, dan leaderboard
yang memicu adrenalin belajar siswa," jelasnya. Program ini didukung penuh
oleh Ibu Tutut Handayani dan Bapak Miftahul Husni yang
bertindak sebagai konsultan pedagogi digital.
Pelatihan guru difokuskan pada penguasaan fitur-fitur
gamifikasi Kahoot! yang paling efektif. Para pendidik diajarkan membuat kuis
tematik dengan variasi soal mulai dari pilihan ganda hingga puzzle,
dilengkapi efek suara dan visual yang menarik. "Yang luar biasa adalah
kemampuan platform ini menciptakan tensi kompetitif sehat. Siswa tidak sadar
mereka sedang dievaluasi karena terlalu asyik 'bermain'," ujar Bu Desy,
guru kelas 6 yang antusias.
Ibu Shelvia, inovator pendidikan di SDN 35, membeberkan
transformasi yang terjadi di kelas. "Siswa yang biasanya menghindari sesi
tanya jawab sekarang justru berebut menjawab. Sistem ranking real-time di layar
membuat mereka terus berusaha meningkatkan skor," ceritanya. Data
menunjukkan 85% siswa kini aktif berpartisipasi dalam kuis
dibandingkan sebelumnya yang hanya 40%.
Antusiasme siswa terlihat jelas dalam setiap sesi Kahoot!.
"Aku selalu deg-degan lihat peringkatku naik turun di layar. Kalau bisa
jawab cepat, poinnya bisa 1000!" seru Rara, siswa kelas 4 dengan mata
berbinar. Banyak siswa mengaku mempersiapkan diri ekstra sebelum sesi Kahoot!
dimulai, dengan mempelajari materi terlebih dahulu di rumah.
Ihsan Nur Fadli, ahli teknologi pendidikan dalam tim ini,
menjelaskan psikologi di balik kesuksesan gamifikasi. "Leaderboard
memanfaatkan naluri kompetitif alami anak-anak. Hadiah virtual seperti badge
dan podium digital ternyata cukup kuat memotivasi mereka untuk belajar lebih
giat," paparnya. Sistem ini juga mengurangi kecemasan akademik karena
kegagalan dianggap sebagai bagian dari permainan.
Menyambut kesuksesan ini, sekolah merancang Kompetisi
Kahoot! Antar Kelas yang akan digelar bulanan. "Kami siapkan piala
bergilir dan piagam penghargaan untuk kelas terbaik. Ini sekaligus melatih
sportivitas dan kerja tim siswa," ungkap Kepala Sekolah. Mekanisme
turnamen telah dirancang dengan sistem gugur dan babak penyisihan yang ketat.
Dukungan orang tua pun mengalir deras. "Anak saya
sekarang rajin mengulang pelajaran tanpa disuruh, hanya agar bisa menang di
Kahoot! besok pagi," tutur seorang wali murid. Beberapa orang tua bahkan
meminta diadakan Parent-Child Kahoot! Challenge sebagai kegiatan
bonding keluarga.
Tim KKN menyiapkan strategi keberlanjutan dengan
membuat Klub Kahoot! School yang dikelola siswa. "Kami latih
beberapa siswa sebagai 'ahli Kahoot!' yang bisa membantu teman-temannya dan
bahkan membuat kuis sendiri," jelas Amir Hamzah. Sekolah juga
mengalokasikan dana untuk Kahoot! Premium guna mengakses fitur lebih
lengkap.
Transformasi melalui gamifikasi ini membuktikan bahwa
semangat kompetisi bisa menjadi motor penggerak pembelajaran. "Yang
awalnya hanya uji coba, kini menjadi budaya belajar baru di sekolah kami,"
pungkas Ibu Shelvia. SDN 35 Pagaralam kini menjadi pionir dalam pemanfaatan
teknologi gamifikasi untuk pendidikan dasar di Sumatera Selatan.
(Sumber: Dokumentasi Kelompok 1 KKN-PKM UIN Raden Fatah
Palembang)
Komentar
Posting Komentar