"Pertama di Pagaralam! SDN 35 Terapkan Pembelajaran AI dengan Kahoot!" (Chandra Adi Saputra)
PAGARALAM - Sejarah baru ditorehkan dalam dunia pendidikan Pagaralam ketika SD Negeri 35 menjadi sekolah pertama yang menerapkan sistem pembelajaran berbasis Artificial Intelligence (AI) melalui platform Kahoot!. Inovasi revolusioner ini merupakan hasil kolaborasi visioner antara tim KKN UIN Raden Fatah Palembang dengan para pendidik di sekolah tersebut, menandai dimulainya era pendidikan berbasis kecerdasan buatan di wilayah ini.
Bapak Amir Hamzah, ketua tim inovasi pendidikan UIN Raden
Fatah, menjelaskan keunikan proyek percontohan ini. "SDN 35 dipilih
sebagai pelopor karena kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusianya. Kami
mengimplementasikan fitur AI Kahoot! yang mampu melakukan analisis pembelajaran
mendalam dan personalisasi konten," paparnya. Program pendampingan ini
melibatkan Ibu Tutut Handayani sebagai ahli pedagogi digital
dan Bapak Miftahul Husni sebagai spesialis sistem adaptif.
Implementasi AI Kahoot! diawali dengan pelatihan
komprehensif selama lima hari bagi seluruh guru. Para pendidik tidak hanya
diajarkan membuat konten dasar, tetapi juga menguasai fitur-fitur canggih
seperti sistem rekomendasi otomatis, analisis pola kesalahan siswa, dan
penyesuaian kurikulum dinamis. "Teknologi ini memungkinkan kami memberikan
pengalaman belajar yang berbeda untuk setiap siswa sesuai kebutuhan
mereka," ujar Bu Rina, guru kelas 5 yang antusias.
Ibu Shelvia, pionir pendidikan digital SDN 35, membeberkan
keunggulan sistem ini. "AI Kahoot! mampu mendeteksi kesulitan belajar
siswa sejak dini dan secara otomatis menyesuaikan materi pengayaan.
Hasilnya, tingkat pemahaman siswa meningkat 40% dibanding metode
konvensional," jelasnya. Sekolah kini memiliki database pembelajaran yang
terus berkembang berdasarkan analisis AI.
Para siswa memberikan respons sangat positif terhadap sistem
baru ini. "Aku merasa punya guru privat sendiri. Soalnya selalu pas dengan
kemampuanku, tidak terlalu mudah atau terlalu sulit," kata Dito, siswa
kelas 4. Banyak siswa yang kini menghabiskan waktu istirahat untuk
menyelesaikan tantangan belajar tambahan di platform ini.
Ihsan Nur Fadli, arsitek sistem AI dalam proyek ini,
menjelaskan kompleksitas teknologi yang diterapkan. "Kami mengembangkan
algoritma khusus yang tidak hanya menyesuaikan kesulitan soal, tetapi juga
mampu memprediksi gaya belajar optimal setiap siswa berdasarkan analisis
15 parameter interaksi," ungkapnya. Sistem ini telah melalui uji coba
ketat dengan akurasi mencapai 88%.
Sebagai sekolah percontohan, SDN 35 kini menjadi pusat
pembelajaran bagi sekolah lain. "Kami telah menyiapkan program kunjungan
studi bagi sekolah-sekolah yang ingin mempelajari implementasi kami," ujar
Kepala SDN 35. Sekolah ini juga membentuk Tim Ahli AI yang terdiri
dari 8 guru terlatih untuk mendampingi replicasi program.
Dukungan masyarakat terhadap inovasi ini luar biasa.
"Sebagai orang tua, saya kagum melihat anak saya mendapat pendidikan yang
begitu personal di sekolah negeri," ungkap Bapak Andi, wali murid.
Pemerintah daerah pun mengalokasikan dana khusus untuk memperluas program ini
ke sekolah lain di tahun depan.
Tim KKN UIN Raden Fatah memastikan keberlanjutan
melalui sistem pendampingan berjenjang. "Kami menyiapkan platform
knowledge sharing, forum diskusi online, dan jadwal kunjungan rutin setiap
bulan," jelas Amir Hamzah. Mereka juga membantu pengembangan AI Lab pertama
di SDN 35 sebagai pusat inovasi.
Keberhasilan SDN 35 Pagaralam ini menjadi bukti nyata bahwa
transformasi pendidikan berbasis AI bukan lagi mimpi. "Ini baru langkah
awal menuju ekosistem pembelajaran masa depan yang benar-benar personal dan
adaptif," pungkas Ibu Shelvia. Prestasi ini telah menginspirasi banyak
sekolah di Sumatera Selatan untuk melakukan lompatan serupa.
(Sumber: Dokumentasi Kelompok 2 KKN-PKM UIN Raden Fatah
Palembang)
Komentar
Posting Komentar